Senin, 30 Juni 2014

Wahai ramadhan, benarkah kami merindukanmu??



Menjelang engkau datang semua antusias dan berlomba menulis status di akun facebook dan twitter-nya “aku merindukanmu ramadhan..”

Semua membicarakanmu,

Semua menyanjungmu, memujimu, layaknya kekasih yang begitu dicinta yang lama tlah tak bersua,
Semua mengucapkan selamat, semua mengutarakan niat,

Di hari pertama engkau datang, masjid mendadak penuh sesak, entah ini benar-benar rasa sayang atau hanya tradisi dari nenek moyang.

Jika benar kami merindukanmu, seharusnya kami berlomba-lomba bangun di sepertiga malam sebagai keutamaan kedatanganmu. Namun nyatanya kami lebih nyaman terbuai dalam bunga tidur pada setiap malam-malammu. Kewajiban kami laksanakan, hanya sebatas menggugurkannya, sementara yang sunnah jarang sekali kami mau menunaikannya.

Jika benar kami merindukanmu, seharusnya tidak ada lagi kata yang saling menyakiti, saling mengungkap aib saudara sendiri, saling menggunjing, memfitnah, mengumbar dusta dan canda yang sia-sia.

Jika benar kami merindukanmu, seharusnya kami tak enggan mengorbankan sebagian harta dalam waktumu. Namun nyatanya kami lebih memikirkan diri kami sendiri daripada memikirkanmu. Kami lebih memikirkan menu berbuka puasa nanti daripada memikirkan sudah banyakkah amal kami hari ini.

Jika benar kami merindukanmu, seharusnya sesibuk apapun kami pasti lantunan ayat suci akan berkumandang mengisi hari-hari. Namun nyatanya kami lebih mencintai social media daripada ayat-ayat suci yang turun dari Illahi.

Jika benar kami merindukanmu, seharusnya kami semua memperbaiki diri, berpegang pada syariat, menutup aurat, dan menjaga syahwat. Namun nyatanya kami masih saja mengumbar maksiat, tanpa kami sadari, karena jalan yang telah sesat.

Wahai ramadhan, benarkah kami merindukanmu?

Bukankah hakikat dari rindu adalah mencurahkan segala perhatian pada yang dirindukan? berjuang untuk yang dirindukan? berkorban untuk yang dirindukan?

Ya Alloh ya Tuhan kami, berilah hidayah pada hambu-Mu ini, tumbuhkan kecintaan kepada-Mu, agama-Mu, Rosul-Mu, dan ramadhan-Mu yang mulia ini.

Sabtu, 15 Februari 2014

Sebuah Renungan



Nabi Nuh belum tahu akan datang banjir besar saat ia diperintahkan membuat bahtera hingga ditertawakan kaumnya. 

Nabi Ibrahim belum tahu putranya akan diganti dengan seekor domba besar ketika ia diperintahkan untuk menyembelih sang putra terkasih dengan pisau di tangannya. 

Nabi Musa belum tahu bahwa samudra akan terbelah ketika ia diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya. 

Nabi Muhammad solallohu ‘alaihi wassalam belum tahu bahwa Islam akan berkembang begitu pesat di Madinah ketika ia diperintahkan untuk hijrah meninggalkan kota Mekah yang dicintainya. 

Yang mereka tahu waktu itu adalah mereka harus menunaikan perintah Alloh dengan keyakinan bahwa Alloh akan memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang taat. 

Ternyata dibalik ketidaktahuan kita, dibalik kesedihan kita, dibalik segala kesulitan yang kita alami ada hikmah dan hadiah yang menanti pada ujung perjalanan kisah ini. 

Jadi janganlah menyerah, janganlah putus asa, teruslah mendekat pada-Nya.. bisa jadi Alloh memberikan yang terbaik dari sesuatu yang awalnya tidak kita sukai. 

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).

Jumat, 31 Januari 2014

Kutemukan Hidayah dalam Kisah Cintaku yang Indah



Namaku Kristi (bukan nama sebenarnya), saat ini usiaku 24 tahun. Sejak lahir aku adalah seorang kristiani, sampai akhirnya aku mengenal seseorang yang mengenalkan indahnya Islam kepadaku, dia adalah Mas Ilham (bukan nama sebenarnya), suamiku. 

Perkenalanku dengan Mas Ilham terjadi di tahun 2006, saat itu aku baru saja masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Mas Ilham adalah tetangga kosku, saat itu dia sedang bekerja sebagai konsultan di salah satu perusahaan di kota itu. Sahabatku yang mengenalkan Mas Ilham kepadaku, saat itu aku sama sekali tak ada perasaan tertarik pada Mas Ilham, karena selain usia kami yang terpaut cukup jauh (11 Tahun), menurutku Mas Ilham juga tidak termasuk golongan cowok yang keren yang bisa digandeng, jadi kesan pertamaku berkenalan dengannya biasa-biasa saja. 

Namun lambat laun aku merasa nyaman berada di dekat Mas Ilham, mungkin karena usianya lebih tua, lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan, banyak memberikan nasihat yang menyejukkan. Semakin lama kami semakin dekat, dan semakin lama kami semakin tahu bahwa kami berbeda. Selain beda usia yang terlalu jauh, kami juga beda suku (dia sunda aku jawa), dan yang palng besar tentu saja kami beda agama. 

Entahlah, kami terus saja menjalani hubungan ini, kami tak menyebut hubungan kami adalah pacaran karena pada kenyataannya memang hubungan kami lebih seperti hubungan kakak dan adik, dimana Mas Ilham selalu memperhatikanku, mendengarkan keluh kesahku, dan selalu memberikan nasihat-nasihat yang menenangkan. Ia tak pernah menuntut dan meminta apapun dariku. Hingga akhirnya di tahun 2008 Mas Ilham kembali ke Bandung dan mendirikan perusahaan disana. Meskipun terpisah jarak kami selalu menjalin komunikasi. Mas Ilham tetap perhatian dan menjadi sosok yang menyenangkan. 

Selasa, 07 Januari 2014

Uge mainan souncloud


Alhamdulillah, target Uge tahun ini adalah membuat lagu-lagu yang bisa membawa kepada kebaikan, mengingatkan, dan semoga bisa menjadi pengobat hati yang dilanda kegalauan. Hari ini Uge resmi membuat akun di soundcloud (versi gratisan), nanti Uge akan coba upload lagu-lagu yang bernuansa Islami, semoga bermanfaat buat kawan-kawan. Uge masih nyari temen yang pinter sound engineering buat bantuin mixing lagu. Jadi sementara ini lagu yang diupload masih versi gitar bolong dan dengan piranti recording seadanya :D

Lagu yang pertama di-upload judulnya "Ketika hatimu gelisah", berikut liriknya:

Ketika kau merasa hatimu tak tentram,
gelisah terombang-ambing tak tentu arah,
mungkin saat itu hatimu telah jauh dari Alloh..
dari Sang Pencipta

Ketika kau merasa hidup ini tak adil,
putus asa, seolah semua telah berakhir,
mungkin saat itu hatimu telah jauh dari Alloh..
dari Sang Pencipta

Kembalilah..
kembali pada Alloh,
bertaubatlah.. segenap hatimu
pahamilah, kita adalah hamba yang penuh dosa

Menangislah.. di sepertiga malam-Nya,
bersujudlah di waktu fajar-Nya,
berdzikirlah, di setiap hembusan nafas kita 

"ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram." (Qs. Ar Ro'd: 28)

Lagu bisa didengarkan dan didownload di: https://soundcloud.com/ustadzgalau

Rabu, 01 Januari 2014

Kisah Cinta Sejati - Ali dan Fathimah


Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!


Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi ia memang tersentak, hatinya terguncang, ketika suatu hari mendengar kabar bahwa Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwanya sejak awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan, Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.


Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa siapalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berdakwah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan seorang kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar, Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.

Senin, 23 Desember 2013

Surga (pasti) di Telapak Kaki Ibu

Tepat tanggal 21 Desember 2013 kemarin saya mudik ke kampung halaman, tujuannya disamping karena ada undangan walimahan sahabat saya, juga karena sudah 2 bulan lamanya tidak berjumpa kanjeng ibu dan bapak tercinta. Dan kebetulan momennya tepat, pagi itu tanggal 22 Desember, bada’ sholat subuh ibu datang ke kamar saya mengantarkan secangkir kopi hangat dengan sapaan dan senyumannya yang khas, tidak berubah sejak dulu. Sekalian saja saya ucapkan selamat hari ibu, dan mendaratlah dua buah kecupan di pipi kiri dan kanan saya, seumur-umur yang pernah nyium pipi saya ya cuma kanjeng ibu, budhe, dan simbah saya, siapa lagi? tak ada yang lain.. (if you know what I mean).

Sehabis menikmati kopi hangat buatan kanjeng ibu, saya keluar rumah menikmati sejuknya udara pagi di desa. Keliling jalan kampung, menyapa tetangga, sambil ngemong adik dan ponakan-ponakan saya. Saat asik melihat anak-anak bermain, pandangan mata saya tertuju pada rumah tua di seberang sawah, dari sana keluar seorang nenek, sebut saja namanya Mbah Nar. Dengan langkah tertatih, beliau keluar rumah untuk menjemur pakaian, pandangannya pun langsung tertuju pada saya, beliau tersenyum, saya pun berteriak menyapanya “Mbah Naaar…”. Ya Mbah Nar ini memang sudah seperti nenek saya sendiri, kata kanjeng Ibu beliau sering menanyakan kenapa saya kok jarang pulang. Sesaat itu juga saya berlari ke rumah Mbah Nar kemudian sungkem mencium tangannya.

Mbah Nar meminta saya masuk ke rumah, kami pun bercerita banyak hal. Mbah Nar memang senang bercerita, saya pun berusaha menjadi pendengar yang baik untuk beliau. Tak lupa saya juga menanyakan kondisi kesehatannya “Sehat to Mbah Nar?”, sesaat itu tiba-tiba air mata Mbah Nar menetes. Awalnya saya tidak tahu sebabnya, kemudian beliau mencurahkan semua isi hatinya. Katanya anak-anak kandungnya saja tidak pernah menanyakan ibunya sehat atau tidak, sedangkan saya yang bukan siapa-siapanya malah peduli dan ingin tahu kondisi beliau. Itulah kenapa beliau terharu, ternyata anak-anaknya cuek dan kurang memperhatikan beliau.

Mbah Nar memiliki empat orang putra dan seorang putri, semuanya sudah mapan dan tinggal di rumahnya masing-masing. Mbah Nar tinggal seorang diri di rumah karena suaminya sudah meninggal setahun yang lalu. Kewajiban mengurus dan merawat Mbah Nar menjadi tanggungan putranya yang bungsu yang tinggalnya memang bersebelahan dengan rumah Mbah Nar. Dari sini ceritanya mulai semakin pilu…

Jumat, 18 Oktober 2013

Semangat Kurban? Atau Semangat Rebutan Daging Kurban?



“Setahun yang lalu, Mak Yati (65 tahun) yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung berkurban 2 ekor kambing setelah menabung 3 tahun.” (selengkapnya)

“Tahun ini, Pak Bambang (51 tahun) yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak berkurban 1 ekor sapi.” (selengkapnya)

==========

“Di sudut yang lain, 2 orang kakek-nenek meninggal dunia karena terinjak-injak saat antri (berebut) bersama warga lain untuk mendapatkan daging kurban.” (selengkapnya)

“Beberapa warga yang memperoleh daging kurban lalu menjualnya kembali ke tempat yang tidak jauh dari masjid.” (selengkapnya)

==========

Mari renungkan, kita yang lebih mampu, yang penghasilannya lebih banyak, yang status sosialnya lebih tinggi, yang tingkat kemakmurannya jauh di atas Mak Yati dan Pak Bambang sudahkah terpikirkan untuk rutin menyisihkan harta untuk berkurban? atau setiap tahun hanya mengharap uluran daging kurban?

Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada hari raya kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)