Sabtu, 12 Mei 2012

Hidup itu Cuma Numpang Ketawa


Hari itu pukul 18.22 (ba'da maghrib) ada sms masuk dari Lala (sahabat saya :red).

“Apa kabar Tad?”,

“hahaha, Alhamdulillah rada pilek, gimana kabarmu La?”,

“Alhamdulillah secara lahiriah sehat, kalau batiniah… hmmmmm :((” (alarm berbunyi, GALAU DETECTED!!)

“Lho ada apa gerangan? Masalah cinta? Pekerjaan? Ada yang bisa dibantu? :),

“Kerjaan Tad :( masalah hubungan antar pegawai, lebih tepatnya dengan senior”,

“Oalah, masalah yang dulu itu? Masih berlanjut perlakuan tidak menyenangkannya, kok bisa? Kan kamu dah cukup lama kerja disitu?”,

“emang aku dah pernah crita ya? Tekanan batin Tad :(”,

Jadi one upon a time si Lala pernah cerita bahwa di kantornya bekerja sekarang, di sebuah institusi pemerintah, ada seorang senior wanita paruh baya yang satu ruangan dengannya. Sebut saja Ibu X (istrinya Mr.X), si Ibu X ini kerap kali “menyerang” Lala dengan kata-kata tidak menyenangkan, baik itu sebuah sindiran maupun ucapan terang-terangan. Terang saja si Lala dibuat GALAU berkepanjangan, biasanya orang semangat buat kerja, ini gara-gara ada si Ibu X maka bayangannya tentang kantor berubah menjadi sebuah tempat yang menyeramkan dan tidak menyenangkan.
“lha iya, dulu kan kamu dah pernah cerita, kiran sekarang udah baik-baik aja, kamu cuek aja deh, latihan cuek sedikit demi sedikit, kalau terlalu dipikir ya jadinya makan ati”,

“iya bener, soalnya yang jadi korban gak cuma aku tapi hampir semua temen-temen merasakan hal yang sama, ngadepin teman kerja yang jauh lebih sepuh dari kita dengan sikap yang kurang menyenangkan itu susah :(”,

“iya lah, jangan dibawa serius, kalau yang sepuh itu tidak menyenangkan kan ada teman lain yang lebih menyenangkan, pinter-pinter menyesuaikan keadaan saja, Kata butet hidup itu cuma numpang ketawa.. jadi rugi kalau hari-harimu gak diisi dengan keceriaan :))”,

“iya, makasih ya Tad”,

“matama :))”

Well, dari cerita di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa GALAU sebenarnya bersumber dari pikiran kita sendiri, sebenarnya kalau kita mau cuek terhadap apa yang orang katakan mengenai kejelekan kita ya kita akan survive. Perlu kita sadari bahwa sensitifitas setiap orang itu berbeda-beda, mungkin si Ibu X tidak bermaksud berbuat tidak menyenangkan, mungkin niatnya cuma becanda, cuma meledek, tapi beliau tidak peka terhadap perasaan orang sehingga banyak yang sakit hati padanya.

Itulah pentingnya sugesti positif dari diri kita sendiri, kita sama-sama manusia, kita sama-sama kerja, bersyukurlah kita bisa mendapat pekerjaan, di luar sana ada jutaan pengangguran, kita adalah orang yang beruntung bisa mendapatkan pekerjaan di tengah rendahnya daya serap tenaga kerja di Indonesia. Kalau di tempat kita ada orang yang bersikap tidak menyenangkan pada diri kita, banyak teman kerja yang membencinya, menjauhinya, justru kita lah yang seharusnya mendekati dan berbuat baik padanya.

Mungkin apa yang dilakukan Ibu X selama ini adalah bentuk ekspresi kesepiannya karena dijauhi temen-teman kantornya sehingga banyak cari perhatian dan pelampiasan, terutama pada pegawai-pegawai baru. Bolehlah kita yang muda mengalah, mengajak ngobrol, membawakan makanan ke kantor. Makanan ini sangat mampu mendekatkan dua hati lho, kalau kita tetap berbuat baik, ramah, sering membawakan makanan pasti sikapnya pada kita akan berubah, yakin deh. Dan kita akan menjadi pemenang yang memenangkan hati rekan-rekan kerja kita. Pasti gak cuma si Ibu X yang berubah, teman-teman kerja yang lain juga akan respect pada kita.

Diantara petunjuk Rasulullah SAW, ketika Uqbah bin Amir bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِفَوَاضِلِ الأَعْمَالِ فَقَالَ: يَا عُقْبَةُ صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ.

“Wahai Rasulullah SAW! kabarkan kepada saya tentang keutamaan–keutamaan sebuah amal? beliau menjawab, Sambunglah hubungan tali silaturahim dengan orang–orang yang memutuskannya, dan berikanlah sesuatu kepada orang–orang yang tidak memberimu, dan berpalinglah dari orang yang mendhalimimu“. 

Jadi tidak ada alasan untuk terus memikirkan masalah yang sebenarnya jika terus dipikirkan justru tidak akan pernah terselesaikan. Jika ingin orang lain berubah, maka rubahlah diri kita sendiri. Bayangkan saja jika kita terus-terusan GALAU, murung, pasti jadi tambah tua tuh.

Saya suka sekali kata-kata Butet Kertarajasa yang pertama kali saya dengar saat beliau diundang ke salah satu stasiun TV swasta bersama anak-anak dan istrinya. Beliau menyampaikan motto hidupnya bahwa “urip iku mung mampir ngguyu”, hidup itu cuma numpang ketawa, jadi sangat rugi jika ada waktu dalam hidup kita yang dilewatkan dengan ke-GALAU-an. Rugi, padahal jika kita bisa menggantikan ke-GALAU-an itu dengan keceriaan pasti akan banyak yang berubah dalam hidup kita, bukan cuma menyenangkan untuk kita tapi juga orang-orang di sekitar kita. Jadi, mulai sekarang boleh dong kita punya motto, “buang jauh segala ke-GALAU-an, tiada hari tanpa KECERIAAN :))” Right?? (ala motivator kondang)