Sabtu, 12 Mei 2012

Syahwat = Sayang Akhwat


Alkisah hari ahad itu kondisi pondok begitu sepi, tetangga paling ujung belakang pamit mudik untuk menyelesaikan masalah di kampungnya, sedangkan tetangga depan dan samping tak nampak dan tak terdengar jua kabar beritanya. Dalam hening tiba-tiba terdengar suara rengekan kuda dari halaman kerajaan, rupanya ada kawan lama yang berkunjung dari negeri seberang. (kok kayak lagi nulis dongeng, heuuuw)

Berhubung masih pagi, sekalian saya ajak dia main-main ke sunmor (baca: Sunday-morning, sebuah istilah untuk kawasan UGM di minggu pagi yang beralih fungsi menjadi pasar tiban). Setelah capek muter-muter, akhirnya kami nongkrong di salah satu warung makan, tepat jam 11.00 waktu Yogyakarta kami pun melaksanakan ritual rutin manusia yang disebut “sarapan”.

“Tad, kamu ini sarapan apa makan siang?”, Tanya si jono (bukan nama sebenarnya).

“sarapan, jon, tapi aku lebih cocok menyebutnya makan dhuha, ya walaupun agak telat”,

“hahaha.. gayamu Tad”,

Kami ngobrol ngalor-ngidul, ketawa cekikikan dengan bahasa kebangsaan kami, para konsumen warung melihat terheran-heran, mungkin berkata dalam hati siapakah gerangan 2 makhluk asing ini atau malah justru tertawa dalam hati? Yah.. isi hati hanya Gusti Alloh yang tahu, intinya kami berdua cuek sahaja.

Tiba-tiba si jono nyletuk,
“Tad, sudah punya istri berapa sekarang? Sudah berapa akhwat yang kamu kibuli?”, (jono memasang muka mesum kemudian tertawa terbahak-bahak)

“Aku gak pernah ngibul Jon, kamu itu yang tukang ngibul, playboy cap kaleng kerupuk,, kalau istri ya sesuai artinya ada tiga, is = adalah, tri = tiga, hahaha..”,

“hahaha parah kamu Pak, aku sudah tobat, istriku juga cuma satu gak mau dimadu”,

“kalo gak mau dimadu ya diracun saja Jon”,

“hahahahaha..” (ketawa sampai mulut dan perut kram)
Akhwat dalam cerita Bandung Bondowoso
Tiba-tiba ada sesosok bidadari turun dari langit (akhwat) yang masuk ke warung tempat kami makan hendak membeli lauk. Langsung pandangan si jono tertuju pada wanita itu, ya insting lelaki.. begitu pula dengan saya, sampe ditahan-tahan biar ni mata gak berkedip :p

“Subhanalloh.. kayaknya bisa dijadiin yang kedua ni Tad”, celetuk Jono.

“Ini serius apa becanda Jon? Klo serius tak bilangin istrimu, kalo becanda juga tak bilangin istrimu (sok serius)”,

“wahaha, bilang aja kamu jg mau sama akhwat itu Tad”,

“hahaha.. ya jelas mau Jon, fitrahnya lelaki kan mau sama perempuan, nafsu syahwat itu namanya.. tapi klo modalnya cuma itu ya belum cukup Jon”,

“Modal yang mana Pak?”,

“ya itu tadi modal syahwat, SYAHWAT = SAYANG AKHWAT, kalo modal sayang doang mah belum cukup.. musti modal ilmu juga”

“hahaha jadi syahwat itu singkatan dari sayang ahwat ya Tad? Baru tahu saya”,

“that’s right Jon” (masang muka sok pinter),

“hahaha..  terus modal ilmu itu maksudnya gimana Tad?”,

“makanya kamu musti ngaji Jon, jangan maksiat terus, biar tahu ilmu-ilmu yang begituan”,

“hwahahasyeeem...”,
Rosululloh SAW bersabda: "Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan, dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian, dan tidak boleh memukul mukanya, dan tidak boleh memperolokkan dia, dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang)." (Riwayat Abu Daud) 
'Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka." (At Tahrim : 6)
Begitulah, nongkrong di warung hampir satu jam lamanya, ketawa-ketiwi dan ujung-ujungnya saya musti ceramah juga, tapi di ujung obrolan kami si Jono berkata bahwa  bulan September  tahun ini (2012) dia akan menikahi wanita yang saat ini biasa dia sebut “pacar”. Ya semoga disegerakan, karena yang biasa disebut sebagai “pacaran” pun berpotensi membawa pada kemaksiatan. Kalau tujuannya membawa pada pelaminan ya itu akan sangat lebih baik :D