Sabtu, 26 Mei 2012

Semakin cinta semakin benci


Saya baru saja berbincang dengan sahabat saya, namanya Abi. Dia bercerita tentang kisah cintanya jaman jahiliyah dulu yang akhirnya kandas di tengah jalan.
Dia mengatakan “kenapa kita membenci sesuatu yang sangat kita sayangi?”,
jawabannya adalah “karena sesuatu yang dimaksud tidak sesuai dengan harapan kita”,
ya besarnya harapan akan berbanding lurus dengan besarnya kekecewaan. Apalagi jika kita menggantungkan harapan pada sesama manusia, pasti banyak kecewanya, seharusnya kita menggantungkan harapan hanya pada Gusti Alloh semata, karena DIA-lah yang menentukan akan memenuhi harapan kita atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Si Abi ini telah menjalin hubungan dengan seorang gadis, sebut saja melati, selama kurang-lebih 3 tahun. Hari-hari mereka lalui dengan bahagia, berbunga-bunga (kata si Abi). Kemana-mana selalu berdua, makan berdua, belanja berdua, nonton berdua, jahiliyah banget pokoknya. Sampai pada suatu saat tiba-tiba si Melati minta putus tanpa sebab yang jelas. Yang jadi alasan saat itu adalah karena long distance, si Abi kerja di Malang, sementara si Melati masih kuliah di Kediri. Si Melati merasa kurang diperhatikan, tidak seperti dulu saat belum long distance.

Juedeeer,,  si Abi merasa seperti kejatuhan meteor di siang bolong. Hatinya remuk seketika. Wajar saja si Abi sangat berharap Melati bisa menjadi istrinya kelak, karena itu si Abi bekerja keras agar bisa segera melamar Melati. Tapi apa mau dikata, harapan tinggal harapan, mimpipun hanya sekedar mimpi. Singkat kata hari itu juga mereka putus hubungan. Si Abi pun dilanda GALAU berkepanjangan, entah si Melati, apakah dia GALAU juga?

Bayangkan saja, 3 tahun menjalin hubungan, sudah berpikir kea rah pernikahan, bahkan mungkin si Abi sudah tidak berpikir mencari calon istri lain selain Melati, namun tiba-tiba hubungan mereka kandas di tengah jalan. Ya si Abi sangat mencintai Melati, itulah yang membuatnya menderita GALAU stadium lanjut, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, semangat kerja pun hilang entah kemana.

Di lain pihak tidak lama setelah itu, Abi mengetahui jika Surti telah menjalin hubungan dengan pria lain. Mungkin selama Abi di luar kota ada pria yang lebih memperhatikan Surti, sesuatu yang tidak bisa Abi berikan semenjak mereka long distance. Ya sesuai prinsip ekonomi, siapa yang memberikan penawaran lebih baik maka dia yang akan memenangkan hati konsumen. Siapa yang bisa memberikan perhatian lebih, maka dia yang akan mendapatkan simpati dari si pujaan hati.

Abi pun tidak habis pikir, GALAU-nya bertambah parah, bulan demi bulan pun berlalu. Meskipun di lidah ia berkata sudah melupakan Surti, tapi toh hatinya tidak bisa mengingkari jika ia terus memikirkannya. Ia ingin segera lari dari kenyataan bahwa saat ini orang yang paling dia benci adalah orang yang paling dia sayangi. Hingga suatu saat pada sebuah perjalanan Solo-Malang ia bertemu dengan seorang gadis di kereta. Awalnya mereka ngobrol-ngobrol karena kebetulan sama-sama berangkat dari Solo, hingga akhirnya kenalan dan bertukar nomor handphone.

Kalau Tuhan berkehendak maka apapun bisa terjadi, si Abi yang cinta mati pada Surti pun akhirnya bisa terlepas dari ke-GALAU-annya selama ini. Singkat kata Abi kini menjalin hubungan serius dengan gadis yang dikenalnya di kereta itu dan akan segera melangkah ke pelaminan. Memang urusan hati, harusnya diserahkan ke Yang Maha Membolak-balikan hati.

Abi pun bisa mengambil hikmah dari kisah ini, Tuhan itu pasti punya rencana dalam setiap kejadian pada kehidupan kita. Tuhan telah membuka tabir Surti yang ternyata tidak setia dan mudah tergoda. Jelas untuk saat itu dia bukan wanita yang tepat untuk dijadikan istri. Dan kini Abi telah menemukan penggantinya, pengganti yang lebih baik menurut versinya. Kalau di flash back lagi ternyata GALAU itu sia-sia, untuk apa kita sampai susah makan, susah tidur hanya karena memikirkan orang yang nun jauh disana pun tidak memikirkan kita.

Well, kesimpulan dari kisah ini adalah GALAU karena cinta hanya bisa diobati dengan cinta yang lain dalam hidup kita. Tapi bukan berarti setelah patah hati kita lalu mengumbar cinta hanya untuk mencari pelampiasan. Tidak usah jauh-jauh, Gusti Alloh adalah sosok yang sangat mencintai kita sebagai hamba-Nya, curhat saja dengan DIA, dekatilah DIA, pasti deh sembuh GALAU-nya. Dan disela doamu pada-Nya mohonlah:

“Ya Tuhan, cukupkan kadar cinta diantara kami,  jangan Engkau kurangi, jangan pula Engkau lebihkan..
Jangan Engkau kurangi hingga kami saling membenci,
Jangan pula Engkau lebihkan hingga melebihi cinta kami pada-Mu..
Jika ia jodohku maka dekatkanlah,
Jika ia bukan jodohku maka berikanlah jodoh yang terbaik baginya juga bagiku,
Karena sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Mu”