Senin, 07 Mei 2012

Tombo Galau

GALAU, entah sejak kapan kata tersebut lahir, yang jelas waktu saya mengalami yang namanya cinta monyet dulu jelas kata itu belum popular seperti sekarang. Secara epistemologis kata tersebut merujuk pada sebuah keadaan dimana wajah kita tampak lesu, tidak bersemangat, suasana hati tidak enak, dan pada tahap awal infeksinya akan mereduksi tingkat keceriaan serta mood seseorang. Kemudian pada kasus yang sudah sampai infeksi stadium akhir bisa membuat orang yang terinfeksi kehilangan semangat hidup, nah lho.. bisa dikatakan jika GALAU adalah faktor penyumbang terbesar dari kasus bunuh diri di dunia. Penyakit ini tidak merusak kekebalan tubuh seperti HIV, tetapi lebih mematikan karena merusak kekebalan iman.

GALAU ini bisa menjangkiti siapa saja, apapun gendernya, apapun sukunya, berapun usianya, dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jomblo sampai yang istrinya tiga, semua bisa terjangkiti penyakit ini. Jika dilakukan penelitian epidemiologi dengan menggunakan cross sectional study mengenai perbandingan penderita GALAU berdasarkan karakteristik responden yang saya sebutkan sebelumnya, pasti prosentase terbesar ada pada kategori remaja. Namun jika kita telaah lebih dalam menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan partisipatif akan diketahui bahwa GALAU bisa menjangkiti siapa saja dengan propbabilitas yang sama. Artinya GALAU itu tidak pilih kasih, siapapun yang daya tahan imannya sedang turun akan didatanginya.

Eh serius amat si bacanya, yang nulis aja gak pernah bisa serius kok kalau menjalin hubungan, eeeh… hubungan listrik maksudnya, saya kan bukan anak elektro :p


Afikaaaa aku galauuuu

Tapi memang galau ini begitu meresahkan, hanya karena GALAU seseorang bisa lupa tidur, lupa makan, dan yang paling parah bisa lupa ibadah, dunia akhirat tuh bahayanya. Meskipun banyak hal yang dapat memicu GALAU akut seperti cinta, karir, pendidikan, keluarga, dan lain-lain, sebenarnya muara dari galau kan bukan dari fisik atau jasmani melainkan dari rohani seseorang. Jadi hanya satu obatnya, yaitu mendekatkan diri sama Gusti Alloh.

Alloh itu Maha Kuasa kang mas, mbakyu.. jika DIA berkehendak maka DIA bisa mencabut ketenteraman hati dari siapa saja. Entah dia orang kaya, entah dia orang paling tampan di dunia kalau Alloh menghendaki ketenteraman hati dicabut darinya maka GALAU-lah dia. Kun fayakuun... jadi apa? prok.. prok.. prok.. jadi GALAU!! Begitu juga sebaliknya, dengan sekejap DIA bisa menghilangkan kegalauan di hati kita.

“ngomong mah gampang, nglakuinnya yang sulit”, celoteh si Otong.

“gampang aja Tong, kalau lagi GALAU langsung ambil air wudhu, terus baca Qur'an. Malemnya bangun buat sholat malem, atau pas kebetulan gak bisa tidur karena GALAU, sholat sunnah aja, terus minta sama Gusti Alloh biar diilangin resah hatinya, GALAU hilang PAHALA datang”.

Orang jatuh itu biasa, terlalu lama berbaring itu yang aneh (kata Pak Mario). Inget gak waktu dulu kita belajar naik sepeda? Pertama jatuh langsung bangun lagi, latihan lagi. Kadang nangis, karena jatuh itu memang sakit, tapi kadang juga tertawa, karena jatuh itu juga lucu. Begitu juga saat kita GALAU, jangan terlalu lama larut dalam kegalauan, langsung bangun! ambil air wudhu, sholat, ambil Qur'an, dibaca, terus puter mp3 lagunya wali (nenekku pahlawanku):

“ku tak kan menangisimu.. huhuhu.. ku masih bisa tertawa.. hahaha”.

Beres dah, praktekin!

Ingin mendengar kisah-kisah GALAU yang inspiratif? Coba kunjungi web site ini: http://tausyiahmp3.blogspot.com

Semoga bermanfaat, sampai bertemu di kajian GALAU selanjutnya :)

Suatu ketika Ibnu Mas'ud ra, sahabat Rasul didatangi seseorang, dia berkata: “Wahai Ibnu Mas'ud, berilah nasehat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang dilanda cemas dan gelisah. Aku merasa tidak tenteram, jiwaku gelisah dan pikiranku kusut, makan tak enak tidurpun tak nyenyak.” 
“Kalau penyakit itu yang menimpamu, bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat,“ jawab Ibnu Mas'ud. “Bawalah hatimu ke tempat orang yang membaca Al-Qur'an lalu bacalah Al-Qur'an atau dengarkanlah bacaan orang tadi. Atau pergilah ke forum-forum pengajian yang mengingatkan hatimu kepada Allah. Atau carilah waktu dan tempat yang sunyi, lalu hadapkanlah hatimu ke hadirat Allah dengan menyembah-Nya, misalnya, ketika orang sedang tidur nyenyak, bangunlah engkau untuk mendirikan shalat malam dan bermunajatlah. Mohonlah kenenangan jiwa, ketentraman bathin dan kejernihan pikiran serta kemurnian hati kepada Allah SWT.”