Jumat, 18 Oktober 2013

Semangat Kurban? Atau Semangat Rebutan Daging Kurban?



“Setahun yang lalu, Mak Yati (65 tahun) yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung berkurban 2 ekor kambing setelah menabung 3 tahun.” (selengkapnya)

“Tahun ini, Pak Bambang (51 tahun) yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak berkurban 1 ekor sapi.” (selengkapnya)

==========

“Di sudut yang lain, 2 orang kakek-nenek meninggal dunia karena terinjak-injak saat antri (berebut) bersama warga lain untuk mendapatkan daging kurban.” (selengkapnya)

“Beberapa warga yang memperoleh daging kurban lalu menjualnya kembali ke tempat yang tidak jauh dari masjid.” (selengkapnya)

==========

Mari renungkan, kita yang lebih mampu, yang penghasilannya lebih banyak, yang status sosialnya lebih tinggi, yang tingkat kemakmurannya jauh di atas Mak Yati dan Pak Bambang sudahkah terpikirkan untuk rutin menyisihkan harta untuk berkurban? atau setiap tahun hanya mengharap uluran daging kurban?

Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada hari raya kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)